Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Cahya

Secret recipes to be happy: 1. Being grateful for everything you have (or had). 2. Being good to other people. 3. Work hard for your dreams. 4. Pray to Allah
HomeWulan and Her ThoughtMar 13, 2010
I am not perfect, but I know I could be better.
And to be "better" is what motivates me to do better ... to work harder .. and to pray harder in every activities I'm engaged in.

Let Us be a better child for our parents, be a better son for our nation, and be a better person for ourselves.

Photo AlbumPengajar MudaDec 27, '11 5:03 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
catatan selama mengajar di pelosok Papua

Blog EntryDec 9, '11 10:11 PM
for everyone

Jangan dulu bicara cinta saat badan ini merantau jauh. Jangan dulu bicara hati manakala jarak begitu jauh. Tapi tak bisa lagi perasaan ini ditahan. Maaf kawan, tapi saya belum-belum sudah jatuh hati di tanah ini. ... Saya tidak akan pernah lupa. Siang itu, saat mata masih setengah menutup dan jiwa belum sepenuhnya berada di raga, dari kaca jendela pesawat terlihat hamparan dataran tinggi bewarna hijau. Di sekelilingnya air laut bewarna hijau bak batu giok. Langit cerah bewarna biru sedikit abu-abu, malu-malu rupanya ia meneteskan air hujan sedikit demi sedikit. Tempat indah itu bernama Fak-Fak. Kabupaten di Papua Barat. Tempat yang konon termahal biaya hidupnya di Papua. Entah benar entah tidak, itu kata orang, saya pun baru sekali ini menginjakkan kaki ke tanah papua. Aih ... indah bukan main. Esok pagi hari setelahnya saya sadar, bahwa keindahan tak terhenti di kota saja. Tempuhlah 1,5 jam dengan perahu panjang maka akan kau temui Urat, sebuah kecamatan yang letaknya berbeda pulau. Perjalanan dengan perahu itu membuat saya dan teman saya melayang-layang seperti naik roller coaster di atas air. Gelombang cukup besar dan pagi itu langit tak lagi malu meneteskan hujannya ke bumi. Urat, asing nama tempat itu namun tak asing di telinga. Saya tahu ada urat nadi, urat dekat otot dan tulang. Tapi Urat, Fak-Fak Timur ... saya tak pernah dengar sebelumnya. Maka demikianlah, 1,5 jam perjalanan roller coaster air saya tempuh hingga perahu menepi di pesisirnya. Orang-orang berkulit hitam tampak kontras dengan gigi-gigi kemerahan akibat mengunyah pinang (makanan khas yang dikunyah bersama kapur) menyambut saya. Salami mereka satu-satu. Maka rasa asing itu pun hilang. Di balik wajah-wajah antagonis itu, tersimpan hati-hati protagonis yang tulus. Maka hari itu pun dimulai. Hari dimana saya jatuh cinta. Pada Urat. Pada pantainya, pada masyarakatnya, pada anak-anak kecil yang berlarian tanpa busana dan bermandikan pasir, pada setiap pancaran mata berisikan mimpi. Ya, saya telah jatuh cinta pada pandangan pertama.


Photo AlbumSemua Boleh BermimpiDec 9, '11 6:31 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Kartu pos ini ditulis oleh 21 peneliti peneliti muda dari Universitas Gadjah Mada, yang pada Juli 2011 lalu mengikuti konferensi psikologi sosial se-Asia di Cina. Mereka menulis kartu pos ini untuk anak-anak sekolah dasar di pelosok Papua (tempat sekarang penulis mengajar sebagai guru bantu dari yayasan gerakan indonesia mengajar). Isi pesan mereka adalah sebuah motivasi agar anak-anak Indonesia ini berani untuk bermimpi dan mau untuk bekerja keras meraih mimpinya

Blog EntryJan 31, '11 12:05 PM
for everyone
Ulurkan cintamu karena Tuhanmu, dan tariklah cintamu karena Tuhanmu, 
engkau tentu tak akan kecewa


Blog EntryJan 22, '11 9:21 AM
for everyone
"... 700 ton sampah plastik diproduksi hanya oleh Jakarta saja. Dan menurut Kementrian Lingkungan Hidup, komposisi sampah plastik di kota-kota besar seperti Surabaya dan Bandung meningkat sejak tahun 2000 dari 50% ke 70% ..."

Begitulah data yang saya baca dan memang nyata di tengah-tengah masyarakat kita. 
Sering sekali, jika bukan hampir setiap waktu, saat berbelanja kita melihat belanjaan kita dibungkus dengan plastik-plastik yang sudah disediakan pihak produsen. Memang plastik sangat membantu, terutama dalam proses pengangkatan barang juga beberapa manfaat lain misal melindungi barang belanjaan yang mudah bocor. 
Karena kemudahan yang ditawarkan plastik, maka si kantong ini pun menjadi wadah yang selalu menemani belanjaan kita. Ia diberikan gratisan dan konsumen senang-senang saja karena tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untung kantong plastik. 

Kapan lalu, saya iseng nongkrong di tempat duduk yang disediakan Ambarukmo Plaza, di depan carrefour Jogja. Dari sana kita bisa melihat kasir dan proses yang terjadi dengan jelas. Luar biasa sekali, sepuluh menit saja saya duduk di sana, ada setidaknya 6 konsumen yang melakukan transaksi. Satu konsumen menggunakan 3-6 kantong plastik. 
Banyak sekali ya ...
padahal kampanye pemanasan global dan hubungannya dengan emisi buang proses pembuatan plastik sudah (cukup) sering digaung-gaungkan. Sampah plastik juga menjadi penyebab banjir, saat tumpukkannya menyumbati jalur2 air. 
Saya jadi ingat waktu di Jerman, orang-orang dengan penuh kesadaran membawa tas sendiri untuk menaruh barang belanjaannya. Karena ternyata pemerintah juga mengatur penggunaan plastik di supermarket2. Bahkan, botol minuman yang dibeli di toko pun bisa ditukarkan dengan uang 20 cent, tergantung ukuran botol. Ini juga terkait dengan kebijakan recycle plastik dari pemerintah. 
Di Australia, sebagian besar toko menggunakan kantong kertas untuk belanjaan2 tertentu. Green bag juga disediakan sebagai alternatif penggurangan plastik. 

Saya sendiri merasa wajar apabila kita mengurangi penggunaan plastik dan memperpanjang usia penggunaan plastik (reuse), karena saya ndak bs mendaur ulangnya (recycle :p). 
Dalam rangka hal tersebut, saya selalu menyiapkan green bag yg saya dapat saat promo minuman soda (beli 4 dapat green bag :p). Tapi sayangnya, seringnya saya kelupaan bawa itu green bag :) jadi yah saya lebih sering tdk minta plastik, dan belanjaan akan saya taruh ke dalam tas. Maklum, saya jarang berbelanja banyak untuk kebutuhan keluarga misalnya. 
Tapi hari ini berbeda, saya nggak lupa bawa green bag dan bisa menggunakannya untuk berbelanja. 
Wah, rasanya senang sekali ketika nggak lupa bawa green bag itu. 
Yah meski masih banyak para konsumen yang tidak membatasi penggunaan plastik, tapi kira-kira upaya kecil apa lagi yaa yang bisa saya atau Anda lakukan?


SHARE OUR CARE

 Trauma Healing for Children Victims of the Merapi Disaster, Yogyakarta-Indonesia

  Rr. Cahya Wulandari-Indonesia

 

Every person has their own role and obligation. For children, playing is their basic right and task. Accordingly, it becomes the adult’s obligation to design a program that is both meaningful and captures the child’s nature to play.

In October 26, 2010, Merapi—one of the sixteen Decade Volcanoes in the world— erupted and forced hundred and thousands of people to evacuate. The citizens consisted of productive adolescence, the elderly, children, and even children under five. They live in their relative’s house or in evacuation camps provided by the government and volunteers.

The volcanic ash, rumbling sounds originating from the volcano, and such experiences of witnessing the loss of a loved one, all serve as unforgettable memories for children. Recalling such painful memories may potentially lead to trauma in the child’s future.

Having accomplished the disaster response efforts in the initial phases of the disaster, Jogja Peace Generation executed a trauma healing program targeting child victims of the Merapi disaster. Following the assessment results, the program was then conducted in the Gulon Village, Salam District, Ngersap—Central Java.

Approximately 150 children, aged five until twelve years old, participated in the program. All participants had evacuated from their homes, and some have returned. The program was conducted in their school (Gulon 5 State Elementary School) in order to facilitate the children to return to their daily activities, prior to the Merapi eruption. 

Before elaborating even further, I will explain the main objectives of the program. On the second month following the disaster, the citizens started to return to their homes. Accordingly, the next step would be to subsequently return to the daily activities performed before the eruption. This may seem easy, but in fact, it’s not that simple. We have to remember that these refugees, particularly children, have been living in the camps where they endure several unpleasant experiences. Such experiences include; crowded & dense camps, poor sanitation, lack of water supply & no electricity, physical illness, witnessing the loss of a loved one, and several other cases. Therefore, to accustom children to return to their daily activities the program must strongly include activities that are strongly familiar to children and that is: playing. In addition, considering that Peace Generation strongly upholds the values of multiculturalism, such values are inserted within each of the activities although not explicitly.

Do.Ci.Reng (Cheerful Games with Peace Generation) was held for three weeks and conducted every weekend (4-5, 11-12, 18-19 December). In the first week, children were involved actively in making a garbage bin from used barrels. They were divided into smaller groups to ensure effectiveness, with each group consisting of 6 until 7 children. Team cooperation is required in decorating the barrel with the paint and brush. “My Beautiful Village” became the theme of their work and the children had been able to transform what had been ordinary used barrels to become a bright and colorful piece of art. Hopefully, this activity could rearrange the children’s perception of their village, of which was once devastated by volcanic ashes, in a much more positive light. On the second meeting, they were motivated to paint a kite as their symbol of hope.

In the second week, children from grade 4 until 6 were invited to create “Lidi Puppet” made from used newspaper and Lidi (thin wood from coconut leaf). As for grade 1-3, they participated in a workshop in making origami. Once again, children were being asked to share and work together during the program. The sharing value was implemented by alternately using the crayons, scissors, sticky tape, etc. The activity also strives to implement values of “loving the environment” by using used-products as the media.  

On the second meeting, children were invited to grow a plant using used mineral water bottles as the pot. Chilly and tomato were chosen since many of their parents were farmers and their lands were destroyed by the volcano. By inviting them to grow and take care of the plants, we hope they would regain the courage to work on their land together with their parents. On the last week, collage was being taught as a media to write stories (for grade 1-3) and make a play (for grade 4-6). Such activities had generated the children’s imagination. The drama that they had performed in the end of the event reflected their original character and pureness of expression.

As a follow up of the program, we will visit the village again to observe the children’s conditions having returned to their daily routine activities.

Picture 1 “ A Kite of Hope”

Kites symbolise hope to the children. During the session they were asked to sense how would their devastated villages in near future be their homes and this was to make social attachment to their prediction so that they will envisage a message that their villages should be built upon their dreams where they can enjoy living, family, and can actively participate in the social activities. In the Millenium Development Goals, children’s right in sustainable environment in the future has been enacted and enshrined, so that the government should take this opportunity for creating better and ample living landscape that facilitate these children development.

 

Picture 2: “My Beautiful Village”

Every children has their distinguished imagination about their future village. On a garbage-bin used for barrels, they translate their imagnation into a picture themed environment, natural landscape, and  animals. This task require a team work where cooperation is necessary in transforming ideas of nature

Picture 3: “Lidi Puppet”

Lidi Puppet” made from used newspaper and Lidi (thin wood from coconut leaf). As for grade 1-3, they participated in a workshop in making origami. During the session, children can share and incorporate their ideas on the immersion of nature with people. The activity also strives to implement values of environment care by using used-products as the media


*) Foto Caption by Meredian Alam


VideoJan 2, '11 9:24 AM
for everyone
Video Ads "a home where we belong"



Blog EntryJan 2, '11 9:07 AM
for everyone
I found a very nice ads when I was browsing randomly on the net. 
It was just a commercial ads by a private bank, but the lyric was actually the first thing that catch my attention: 

"I thought about a home
a home where we belong
where i could finally found happiness, ho o ho…
no fancy towers, no fancy domes
yet close to heart are place that known
my home sweet home"
Picture: studenifo.blogspot.com

The song represents the meaning of the home. Not only for a place to have a rest and protection, but also a place where we belong. It capture the essence of family and togetherness as well as the importance of family. Love it so much. 

PS: I will upload the you tube very shortly. 


Blog EntryDec 16, '10 11:15 PM
for everyone
(Caption Gambar: wayang bithing (lidi) dari koran bekas )


Alhamdulillah ... program trauma smiling yang diinisiasi oleh jogja peace generation dan afsc sudah memasuki minggu terakhir, Penutupan akan dilaksakan tanggal 18-19 desember besok. 

Aktivitas yang sudah dijalankan meliputi:

Pemberian makanan tambahan:
- Susu dan makanan-makanan lokal seperti kacang hijau, jenang, dan agar-agar. 

Aktivitas Bermain (Minggu I, 4-5 Desember 2010)
- Melukis layang-layang
- Melukis tempat sampah
  
Workshop (Minggu II 11-12 Desember 2010)
Membuat wayang bithing (lidi) dari koran bekas
Menanam biji tomat dan biji cabe dengan memanfaatkan gelas plastik bekas.

Minggu depan insyallah acaranya aktivitas relaksasi dan workshop. Workshop dibagi menjadi 3 kegiatan utama; workshop menulis (4-6 SD), teater (5-6 SD), dan origami dengan kertas koran bekas (1-3 SD). Sedangkan aktivitas relaksasinya ada dongeng dari komunitas pendongeng Jogja (Kak Adin) juga akustikan dari teman2 Ranisakustik (LSM Rifka Annisa). 

Yah .. semoga semua berjalan lancar. Amin ..

NB: kapan2 aku posting kan foto2 nya yg lebih banyak ya :)
(Caption Gambar: Lukisan Layang-Layang)

(Caption Gambar: Keceriaan anak-anak pengungsian)
(Caption Gambar: Boys)

-The Smile on Their Face-


Blog EntryDec 1, '10 9:25 AM
for everyone
Teman-Teman ...
Saat ini Pisgen sedang mempersiapkan program untuk anak-anak di lokasi
pengungsian (Desan Gulon, Salam-Magelang)-17 KM dari Puncak Merapi

Rangkain program akan berlangsung selama 3 minggu dan dilaksanakan setiap akhir minggu
(4-5 desember, 11-12 desember, dan 18-19 desember 2010). 

Program terdiri atas aktivitas bermain, aktivitas relaksasi, dan workshop yg berupaya menanamkan kebiasaan mencintai lingkungan, menumbuhkan rasa solidaritas, memberdayakaan remaja usia produktif dan masyrakat sekitar, menanamkan nilai religius melalui kegiatan ibadah dan doa, serta kecintaan terhadap budaya lokal yg disampaikan melalui aktivitas bermain permainan tradisional. 

Apabila teman-teman ada yg ingin sharing mengenai program serupa, silahkan di posting untuk menambah pengetahuan kami semua 

selain itu, setiap minggunya pisgen membutuhkan 15 relawan.
Jika teman2 membaca postingan ini dan available untuk membantu di setiap tgl yg telah disebutkan di atas silahkan menghubungi nomor di bawah ini. Sekarang pisgen sedang membuat list siapa aja yg bisa ikut membantu di lokasi ^^:

Nisa (0815 429 38029) atau
Wulan (0812 1564 7711)

Terimakasih 

Blog EntryNov 12, '10 1:10 PM
for everyone
Gimana si biar gak gampang ter-distorsi dalam mengingat tanggal, jadwal, dan rute jalan?

Saya akui saya buruk dalam hal mengingat jadwal. Dicatat dong .. eits, jangan salah. Sudah! .. tapi ntar buntut2 nya jadi salah liat catatan. jeng .. jeng ...

Tadi sore, saya semangat sekali mau olahraga hobi baru saya (Yoga. Minat?? cek: http://www.balanceyogajogja.com/service.php?kode=med). Biasanya ambil hari rabu pagi (8.30-10.00), tp hari rabu kemaren ke Posko di Munthilan .. jadi tebusannya hari Jumat aja deh mau ambil kelas sore .. kan kelas sore jam 16.15 .. 
tuk..tuk..tuk .. dengan nyantai naik lantai 2. eh la dalah ... hari jumat Yoga-nya jam 18.15 .. hedeh .. lagi2 salah jadwal. Padahal yaa..sebelom berangkat saya udah melototin tempelan jadwalnya .. tapi ternyata keselip sama jadwal hari kamis sore! hedeh ... ampun DJ ... 

Beberapa kali saya mendengar berita bahwa distribusi bantuan bencana Merapi terlalu terpusat di titik-titik tertentu, padahal posko lain banyak yang belum tersentuh bantuan dan kurang relawan. Saya menyebut posko tersebut sebagai Posko Sepi Media; karena kurangnya pemberitaan yg berakibat aliran bantuan pun tak menjangkau posko tersebut.

Maka berbekal informasi dan koordinasi dengan seorang teman yang sudah lebih dahulu berada di Posko Sepi Media, saya bersama beberapa anggota Peace Generation Jogjakarta yang lain meluncur ke lokasi pengungsian di Sekolah Van Lith, Muntilan pukul lima dini hari tadi (5/11/10). Hanya berawal dari sebuah niat memberikan bantuan berupa makanan sebanyak 225 bungkus, kami berangkat dan tak mengira apa yang akan kami saksikan selanjutnya.

(potret pepohonan yg rubuh dan abu vulkanik yg menumpuk)

(air sungai di daerah Muntilan telah bewarna kecoklatan akibat debu dan abu vulkanik)

Setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalananan, kami tiba juga di Magelang. Pagi itu Magelang tampak seperti foto grayscale. Tak ada lagi warna hijau dedaunan, yg tampak di mata kami hanya hitam, putih, dan abu-abu yang mendominasi kota. Pepohonan rubuh, demikian pula dengan atap rumah dan kebun salak milik penduduk yang tak mampu lagi menahan beratnya abu vulkanik yang rupanya telah menyerupai lumpur. Air sungai tak lagi berwarna jernih, namun coklat pekat sarat dengan  lumpur dan debu. Magelang pagi itu, tampak seperti kota mati.

Meski demikian, aktivitas penduduk masih berjalan. Luar biasa menurut saya, jika melihat keadaan kota yang demikian. Kami menuju Posko pengungsian di Van Lith, Muntilan. Pada 1/11/10 Kompas Online telah memuat berita mengenai posko ini, namun stasiun TV tampaknya belum memberitakannya. Padahal ada sekitar 1500 pengungsi di posko ini (767 pengungsi pada 4/11/10 kemudian bertambah hingga tulisan ini dibuat 5/11/10).


 














Pada awalnya pengungsi tidur di tenda-tenda di lapangan sekolah Van Lith (Kiri: dimuat dalam Kompas Online 1/11/10), namun saat kami datang ke sana, para pengungsi telah dipindahkan ke aula dan ruang-ruang kelas (Kanan: Dok.Pisgen 5/1/11). Saat turun dari mobil, kami merasakan hujan yang turun bukanlah air atau abu saja, tetapi lebih mirip cipratan-cipratan lumpur. Mobil yang kami pakai pun mengalami halangan jangkauan pandang, karena hujan ‘lumpur’ tersebut. Karena itulah, setiap beberapa meter, kami harus bergantian turun untuk menyiram air dan membersihkan kaca depan mobil. 

(Kendaraan yang kami gunakan menuju Muntilan)

Saat sampai di Posko, kami berkeliling untuk melihat kondisi para pengungsi dan kondisi posko. Darisana kami sempat berbicara dengan para pengungsi dan juga relawan di sana. Rata-rata pengungsi membutuhkan obat batuk, salep alergi kulit, pakaian dalam untuk laki-laki/perempuan/anak-anak, handuk, serta yang paling mendesak adalah makanan siap saji (nasi bungkus). Makanan siap saji dibutuhkan karena pembukaan dapur umum sangatlah riskan mengingat letusan bisa datang  kapan saja sehingga kemungkinan untuk evakuasi posko juga tidak dapat diprediksikan. Selain itu tim medis yang tersedia sangat minim dengan hanya dua relawan.

Setelah semua selesai, kami meninggalkan lokasi posko dengan membawa hasil-hasil dokumentasi yang semoga dapat digunakan untuk mengundang ‘media’ meliput posko-posko lain yang sepi media sehingga aliran bantuan dapat menjangkau titik-titik tersebut. Kendala utama biasanya terkait dengan transportasi menuju Posko.

Apabila sesuai rencana, kami akan kembali ke Posko besok (6/11/10) untuk membawa bantuan makanan nasi bungkus dan logistic.

Sekembalinya ke rumah, saya merasa sangat beruntung … dan di dalam rasa syukur itu terselip semangat untuk kembali ke sana esok hari.

Bagi teman-teman yang hendak mengulurkan bantuan melalui:

Peace Generation Jogjakarta

Rekening Mandiri cab. Yogyakarta UGM

a.n. SUSANA No rek: 137.000.598.2042

Dana akan dikelola untuk makan dan kebutuhan sehari-hari pengungsi di Posko Van Lith, Muntilan.

 CP: 0812 1564 7711

(daftar kebutuhan mendesak menurut catatan relawan)

Foto Lebih Lengkap Dapat Dilihat di: 

http://www.facebook.com/photo.php?fbid=453585714066&set=a.453576094066.237312.716459066&notif_t=photo_comment&fbb=rf45d937f&refid=0&m_sess=1u7V7k-oq1oWfIu


Blog EntryOct 27, '10 3:41 AM
for everyone

“Saya membayangkan suatu masa dimana ibu-ibu merasa takut untuk sekadar pergi keluar membeli sayur.

Saya membayangkan suatu masa dimana para bapak-bapak saling mencurigai satu sama lain dan merasa tak nyaman hidup tanpa pagar dan pengawal pribadi.

Saya membayangkan suatu masa dimana pemuda mudah sekali membakar tersangka dan lupa pada praduga tak bersalah.

Saya membayangkan suatu masa dimana anak-anak merengek tak mau sekolah karena enggan kena palak. Dan orang tua melarang sekolah karena rumah menjadi terlalu nyaman untuk segalanya.

Dan saya rasa, Saya sudah menjadi masyarakat pencuriga dengan membayangkan semua hal yang saya tulis di tadi …”

 

Bagaimana tidak?

24/7 selama 365 hari dan terus terusan berulang, kita disajikan berita-berita yang menumbuhkan skeptisme dan mengikis harapan;

sistem peradilan yang tak lagi buta, wakil rakyat yang korup, presiden yang ompong menghadapinya, bencana (tak)alami di seluruh pelosok negeri, dan lain sebagainya.

Sedang berita tentang bagaimana anak-anak bangsa berkreativitas dan berprestasi, tentang bagaimana para diplomat kita berjuang namun tak punya suara karena adanya politik kepentingan, tentang bagaimana para intelektual berusaha menciptakan perubahan positif .. seolah kasat mata dalam bingkai pem-berita-an kita. Pun jika ada, porsinya ada di filler atau closing news. Seolah Headline berkata: maaf, tak terima berita baik.

Sadar kah kita?

Berita yang penuh dengan cerita ketidakadilan dan pemerintah yang korup, membuat kita menjadi paranoid dengan (sedikit) saja bentuk ketidakadilan. Ya, saya akui bahwa ‘sedikit’ ketidakadilan sama buruknya dengan ‘banyak’ ketidakadilan. Tapi, pantaskah jika itu menjadi tameng melakukan tindakan anarki?

coba lihat …

Tidak kah berita itu bisa jadi penyulut perkara yang sangat mudah terbakar?

Bayangkan saat kebencian terhadap sistem peradilan membuat orang menghakimi pencuri ayam, yang hidupnya harus berakhir di liang kubur?

Lagi-lagi, mau tak mau, yang jadi korban tetap rakyat kecil.

 

Jika ketakutan mendominasi, jika kebencian memenuhi hati, bukan kah menjadi sangat mudah masyarakat ini jadi masyarakat yang pemarah. Pembenci. Dan pencuriga?

 

Media oh media …

Engkau seharusnya tak boleh hilang harapan

Engkau berada di garis etika netral

Peranmu begitu sensitif dan berpengaruh pada pola pikir.

Janganlah hilangkan harapan itu, meski maksudnya ialah meningkatkan daya kritis masyarakat.

 

Karena saat bangsa ini tak lagi punya harapan,

Saat itulah penjajahan dalam arti sebenar-benarnya.



PS

Sebenarnya masih banyak media-media kredibel yang merangkul harapan masyarakat, namun tak sebanyak media yang tidak. Jadi kita juga harus cerdas dalam memilih media. 

berikut saya temukan sebuah situs media online: 

http://goodnewsfromindonesia.org/category/international/

haha .. memang sih, seperti namanya, isi beritanya semua "GOOD NEWS" tentang Indonesia. dan Ya, saya rasa juga bukan jurnalisme jika 100% diisi berita baik, seolah dunia ini selalu baik2 saja. TAPI, menurut saya, akan sangat baik, jika porsi kita diimbangi dengan membaca situs tersebut. Supaya ... isi kepala tak melulu soal negatif. Bangsa kita ini banyak loh kelebihannya ... meski Negaranya juga banyak kekurangannya. Hehe



Blog EntryOct 25, '10 12:24 PM
for everyone

Teman saya, yang menjadi bagian dari minoritas dalam masyarakat kita bercerita …

Bahwa mayoritas (yang juga adalah kaum saya) beperilaku intimidatif

Atas dasar “perjuangan” begitu (sebagian) kaum saya menyebutnya.

 

Perjuangan yang melibatkan lempar batu dan bakar-bakar sebagai aksi reaktif

perjuangan, yang kalau itu perjuangan, berarti bukanlah berjuangan bersama

karena tak semua elemen kaumku dilibatkan dan sepakat bersama mereka

namun dampak yang ditimbulkan begitu masif

 

“Saya mengerti itu hanya sebagian kecil dari mereka, lalu pertanyaan saya: kemana yang sebagian besar?” Tanya teman saya. Dan saya pun tersindir.

Malu karena hanya duduk nyaman disini sedang ada banyak kejadian di luar sana

Kejadian yang baik-buruknya menjadi semakin relatif saat dibenturkan dengan nilai-nilai buta kemanusiaan.

Dan kurasa, itulah yang terjadi jika manusia menghilangkan ‘hati’ dalam kalkulasi perilaku mereka: anarkisme buta yang fanatik.

 

Yang jelas, 

jika harus bunuh orang biar bisa mati ‘terhormat’…

Jika harus membacok saudara sendiri demi masuk surga ..

Kok, rasanya …  neraka jadi terdengar lebih baik.

 

Kusumanegara, 25 Oktober 2010

Setengah bingung, setengahnya lagi marah

 

Please visit my multiply: http://wulanandherthought.multiply.com/



Juno:
I just wonder sometimes if two people can stay together forever?

Dad: 
 Look, in my opinion the best thing you can do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what-have-you. 

The right person is still going to think the sun shines out of your ass.
That's the kind of person that's worth sticking with."

MusicSep 21, '10 7:02 AM
for everyone
Nice songs with cute lyric and enjoyable tones ^^
Sugar Town   

Blog EntrySep 20, '10 10:32 PM
for everyone



Sapalah aku, wahai mentari pagi

Sentuh jiwa ini yang lelap dalam mimpi.

Dan saat hangat mu menyelimuti diri,

Kutahu pasti itulah saatnya ku berdiri … dan berlari 


Blog EntrySep 4, '10 6:13 PM
for everyone
(Jogja, Nol Kilometer/ Pic: Courtesy A.P)

::I wish I could be lights in the city heart, to be there and colouring the darkness of your heart. But I guess I'm only a candle, who burnt alone until it crumble. And yet, perhaps, that is what I meant to be, and that it shall be happy::


(my self, sometime in September)


NoteGuestbook
   
wulanandherthought wrote on Nov 2, '11
Halo Malika, boleh banget ... mungkin via sms jika kamu mau, ini nomor ku 081215647711. Tapi harap maklum aku sekarang sedang tugas di Papua, jadi kadang ada sinyal kadang tidak :).
Sekilas saja, Peace Generation adalah wadah/ komunitas bagi anak2 muda yg punya kepedulian tentang pentingnya pendidikan perdamaian bagi generasi muda. Kegiatan kita seputar edukasi perdamaian dan resolusi konflik melalui perilaku nir-kekerasan :)
bilangsaja wrote on Oct 31, '11
ayo wuul di-update lg :)
keizza wrote on Aug 27, '11
wulaaannn...kangeeen...gimana kabar indonesia timuur?:D
wallstree wrote on Aug 9, '11
wulanandherthought wrote on Oct 10, '10
@ Cesar: salam kenal juga ^^ mari terus menulis hehe

@ Prayudhadewa: haha .. berarti tema besar blog-mu "global warming" dong ^^ hehe kidding. bagus kok tulisan2nya. siip
prayudhadewa wrote on Oct 8, '10
matahri, malam, dan pagi selalu memberi rasa yang berbeda-beda.
malam dan pagi kadang dingin, kadang panas. matahari kadang menyengat, kadang tertutup kabut.
ahaha.
gak jelas ya.

anyway, makasi udah approve.
:)
cesarfistek wrote on Oct 8, '10
sudah saya add mbak ....
salam kenal..hehe :)
wulanandherthought wrote on Aug 19, '10
Halo Jipeng ... pa kabar ..? jadi inget yg "abu-abu" hmmm
ajipradipta wrote on Aug 14, '10
halo wulwul
matakampungan wrote on Mar 29, '10
thanks sudah diajak berteman hehee.... calon psikolog muda hehee.... salam kampungan...
wulanandherthought wrote on Mar 23, '10
iya saya anak psikologi. hehe salam kenal juga ...

Rani: ho .. finance Prince Water Cooper! :))
bilangsaja wrote on Mar 23, '10
wuusss
ada ex chairman psikomed, hahaha
preciousgeek wrote on Mar 23, '10
ah, lupa kenalan.. sasa disini...
preciousgeek wrote on Mar 23, '10
hey2... temennya mbak dhilla ya?? anak psikologi yah? saya liat fotonya yang diatas brg temen kost saya.. whoaaa.. dunia sempit euy.. hehehe
wulanandherthought wrote on Mar 14, '10
ngurusin proposal, biut ...
oleh-oleh? mau foto2 kita po? gimana? ^_^
bilangsaja wrote on Mar 14, '10
apa-apaan kaliaann!!!
brani2nya ga ngajak akuu
pasti bli yoghurt deh
huuuw
oleh-oleeehh :D
wulanandherthought wrote on Mar 13, '10
hai Dhila .... ^_^
dhilanazif wrote on Mar 13, '10
hey wul!
Pages:123